Penulis terinspirasi oleh cerita bocah berumur 8 thn tentang teman sekelasnya yang secara tidak langsung mindsetnya terkikis oleh pendidikan yang ada..
Ketika ada suatu soal yang berisi "sebutkan apa saja yang ada di depan rumah kamu?" memang pertanyaan ini terlihat sangat subjektif, tapi apakah daya seorang bocah berumur 8 thn tidak memikirkan apakah soal ini subjektif atau tidak.
Kebanyakan anak2 berumuran 8thn itu menjawab "Teras, sepatu, tanaman, mobil, motor dll."
Tetapi ada satu anak yang menjawab "Tong Minyak". Seorang pendidik seharusnya mengerti kalau pertanyaan ini sangat subjektif dan seharusnya semua jawaban dari siapapun benar. Tetapi beda dengan kenyataan yang seharusnya, sang Guru membacakan jawaban bocah yang menjawab tong minyak itu di depan kelas. Spontan anak2 yang lain tertawa terbahak2 dan tersirat bahwa anak itu bodoh.. Anak yang menjawab itu malu dan minder terhadap teman2nya-tidak menangis- mungkin dia diberikan ketegaran oleh Tuhan karena bocah itu benar.
Apakah bocah itu salah? Apakah seorang pendidik pantas melakukan hal itu? Bocah itu tidak salah. Mungkin hanya Tong Minyak itu yang ada di depan rumahnya.Logikanya ketika seseorang bertanya tentang segala sesuatu pertanyaan yang subjektif, kita manusia dihukum bebas untuk menjawab yang subjektif pula. Lain halnya ketika penanya itu melakukan doktrin agar jawaban subjektif itu diganti, dan itu akan membuat suatu kebohongan publik yang dipropaganda. Begitulah yang dilakukan oleh seorang pendidik tadi, secara tidak langsung dia melakukan suatu kesubjektifan dalam bertanya dan jawaban itu haruslah sama dengan apa yang dia pikirkan..
Umur 6-10 thn, umur yang sangat bagus untuk pembentukan suatu mental manusia. Tetapi pembentukan mental yang dialami anak itu cenderung negatif ketika di sekolah. Ketika guru sangat subjektif dalam menilai, ketika guru dapat memukul tangan anak yang kukunya panjang, ketika anak itu di hukum tangan di telinga dan kaki diangkat satu, ketika hukuman-hukuman diberikan kepada bocah yang baru dalam tahap pembentukan mental dan prilaku. Mental anak didistorsi oleh hukuman2 yang menurut saya tidak bertanggung jawab. Kemanakah mental generasi dibawah kita akan diarahkan? apakah akan menjadi suatu individu yang takut akan kesalahan ketika belum mencobanya? ketika optimisme itu hanya menjadi suatu yang utopis?
Jumat, 10 April 2009
Langganan:
Komentar (Atom)
